Agus Mantan Napi 2020-2023 Tanggapi Berita Terkait Pelayanan Lapas Klaten: Saat Saya Disana Perlakuan Baik dan Makanan Layak

Berita54 Dilihat

KLATEN – Agus Nugroho, mantan narapidana kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang menjalani hukuman di Lapas Klaten tahun 2020-2023, memberikan tanggapan terkait berita viral beberapa pekan lalu yang mengemukakan dugaan perlakuan tidak manusiawi terhadap narapidana, mulai dari tindakan kekerasan, pungli, hingga dugaan aktivitas narkoba oleh oknum petugas.

Sebagai mantan Kepala Desa (Kades) Kebondalem periode 2013-2019, Agus menyatakan bahwa pengalamannya selama berada di dalam penjara berbeda dengan informasi yang beredar terkait keadaan lapas saat ini.

“Saat saya menjalani hukuman, pelayanan petugas sangat bagus. Baik dari segi makanan maupun perlakuan terhadap narapidana, semuanya baik-baik saja,” ujar Agus. Kamis(12/2/2026).

Ia juga mengungkapkan bahwa Kalapas Lapas Klaten pada masa ia menjalani hukuman, Ahmad Fauzi, merupakan sosok yang baik dan tegas, dengan prinsip tegas bahwa tidak boleh ada petugas yang memperlakukan narapidana secara sembrono.

Salah satu warisan dari masa jabatan Ahmad Fauzi adalah pembangunan masjid di dalam area lapas. Menurut Agus, pembangunan fasilitas ibadah tersebut bukan atas nama pribadi siapapun.

“Masjid itu dibangun atas kesadaran dan kerja sama para relawan narapidana sendiri. Tujuannya agar para napi bisa menyadari pentingnya nilai-nilai keagamaan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,” jelasnya.

Agus juga memberikan pesan bagi pihak pengelola Lapas Klaten untuk terus mengedepankan prinsip pelayanan yang baik dan memanusiakan setiap individu, baik dari segi kualitas makanan maupun cara perlakuan terhadap narapidana.

“Mereka para napi sejatinya ingin menjadi lebih baik dan kembali berintegrasi dengan masyarakat,” katanya.

Selain itu, sebagai mantan pejabat desa, ia juga mengingatkan para pejabat yang masih aktif, khususnya kepala desa, untuk memanfaatkan jabatan dengan sebaik-baiknya dan berfikir matang sebelum melakukan tindakan korupsi.

“Jika terjadi korupsi, dampak terbesar tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga keluarga yang akan terpukul secara mendalam hingga mengalami gangguan psikologis,” tandas Agus.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Lapas Klaten belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan dugaan perlakuan tidak sesuai dan tindakan oknum petugas yang disebutkan dalam berita viral.
(Vio Sari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *