Senin, 26 Mei 2025 | Kudus — Suasana duka dan kepanikan menyelimuti Desa Hongosoco, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, setelah sebuah truk pengangkut tanah galian mengalami rem blong dan menabrak pekerja serta alat berat di lokasi tambang, Senin (26/5/2025) pagi.
Insiden tragis itu terjadi sekitar pukul 09.30 WIB saat aktivitas penggalian tengah berlangsung. Truk bermuatan tanah dari area kuari tiba-tiba meluncur tak terkendali ketika hendak keluar dari lokasi tambang. Akibatnya, seorang pekerja tertabrak dan tergencet di bawah badan truk. Korban dilaporkan meninggal dunia di tempat dengan kondisi mengenaskan.
Saksi mata, Supardi (47), mengungkapkan detik-detik mencekam saat truk melaju tanpa kendali.
“Sopir sudah teriak-teriak remnya blong, semua orang panik lari. Tapi satu pekerja di dekat ekskavator nggak sempat menghindar,” tuturnya dengan suara gemetar.
Rekan-rekan korban dan warga sekitar sempat berusaha memberikan pertolongan, namun nyawa korban tidak tertolong. Jenazah korban kemudian dievakuasi petugas dan dibawa ke RSUD Kudus untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Warga Sudah Lama Resah
Peristiwa ini kembali memicu sorotan terhadap lemahnya pengawasan pada aktivitas tambang tanah di wilayah tersebut. Warga mengaku telah lama merasa resah akibat lalu-lalang truk bermuatan berat yang melintas tanpa pengamanan memadai.
“Ini bukan pertama kalinya. Jalan kampung rusak, debu di mana-mana, dan sekarang nyawa melayang. Sampai kapan ini dibiarkan?” keluh Sulastri, salah satu warga setempat.
Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, lokasi galian tersebut dikelola oleh seseorang bernama Pak Hananta. Di wilayah Hongosoco sendiri terdapat tiga titik tambang Galian C yang disebut telah beroperasi selama lebih dari enam tahun.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sopir truk untuk keperluan penyelidikan. Aktivitas tambang di lokasi untuk sementara dihentikan.
Peringatan Keras untuk Keselamatan
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak bahwa keselamatan kerja bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan soal nyawa manusia yang nyata. Ketika keuntungan bisnis lebih diutamakan daripada keselamatan, maka tragedi hanya tinggal menunggu waktu.
(Tim & Redaksi)
