Warga Bambankerep Kecamatan Ngaliyan Berbondong-bondong Menuju Makam. Ada Apa??

SOSIAL & BUDAYA754 Dilihat

Viosarinews.com, Semarang ___ Minggu (5 Februari 2023), Tradisi Nyadran adalah serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah. Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam atau masyarakat Jawa tengah dalam menyambut datang nya bulan Ramadhan , umumnya di pedesaan.

Sukirno selaku RT sekaligus tokoh masyarakat wilayah candi penataran RT 08 RW 03 Kelurahan Bambankerep Kecamatan Ngaliyan menyampaikan,” Kita akan tetap terus menjaga tradisi ini mas Karna menurut saya ini salah satu bentuk penghargaan/penghormatan kepada leluhur leluhur yang telah mendahului kita dan menjaga budaya asli Jawa Tengah, kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya kan, begitu
kegiatan nyadran sendiri rutin kita lakukan di wilayah Kelurahan Bambankerep khususnya, agar menjadi contoh untuk Anak anak kita kelak nanti.”
Pungkasnya.

Didalam rangkaian
Tradisi Nyadran sendiri terdiri dari berbagai kegiatan, yakni :

Melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan. Dalam kegiatan ini masyarakat dan antar keluarga saling bekerjasama gotong-royong untuk membersihkan makam leluhur.

Kirab, merupakan arak-arakan peserta Nyadran menuju ketempat upacara adat dilangsungkan.

Ujub, menyampaikan Ujub atau maksud dari serangkaian upacara adat Nyadran oleh Pemangku Adat.

Doa, Pemangku Adat/Tokoh masyarakat memimpin kegiatan doa bersama yang ditujukan kepada roh leluhur yang sudah meninggal.

Kembul Bujono dan Tasyakuran, setelah dilakukan doa bersama kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Masyarakat menggelar Kembul Bujono atau makan bersama dengan setiap keluarga yang mengikuti kenduri harus membawa makanan sendiri. Makanan yang dibawa berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, prekedel, tempe dan tahu bacem, dan lain sebagainya.

Setelah masyarakat berkumpul dan membawa kendurinya masing-masing, kemudian makanan yang dibawa diletakkan didepan untuk didoakan oleh pemuka agama setempat untuk mendapatkan berkah dan kemudian tukar menukar makanan yang tadi dibawa oleh masyarakat.

Untuk mengakhiri acara kemudian masyarakat melakukan makan bersama dengan saling bersendau gurau untuk saling mengakrabkan diri.

Tata cara pelaksanaan tradisi nyadran tidak hanya sekedar ziarah ke makam leluhur tetapi juga terdapat nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, menjalin silaturahmi, dan saling berbagi antar masyarakat di suatu lingkungan.

Tradisi Nyadran dilakukan dengan kearifan lokal masing-masing sehingga dibeberapa tempat terdapat perbedaan-perbedaan dalam prosesi pelaksanaannya.

Dalam perjalanannya terdapat pengembangan-pengembangan dalam prosesi Nyadran yakni dengan memasukkan unsur-unsur budaya, salah satunya yakni dengan menampilkan bebagai kesenian khas daerah Jawa Tengah tersebut sebagai unsur pertunjukan.

(Agung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *