Semarang – Direktur Utama PT Bintang Vio Sari Melaksanakan Acara Ruwahan pada Jumat(6/1/26) malam. Vio Sari menghadirkan para warga kampung yang berjumlah puluhan orang. “Iya, kami mengadakan acara Ruwahan sebelum bulan puasa Ramadhan”, ujar Vio kepada Wartawan. Tradisi Ruwahan adalah sebuah tradisi ziarah kubur dan mendoakan arwah leluhur yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Muslim Jawa menjelang bulan Ramadan. Nama “Ruwahan” sendiri berasal dari kata “Ruwah” atau “Syaban”, yaitu bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah, yang merupakan waktu pelaksanaan tradisi ini.

Berikut beberapa hal penting terkait tradisi Ruwahan:
– Tujuan: Mendoakan arwah para leluhur, memohon ampunan bagi mereka, serta membersihkan diri dan hati sebelum memasuki bulan Ramadan.
– Waktu Pelaksanaan: Biasanya dilakukan pada bulan Ruwah (Syaban), menjelang bulan Ramadan.
– Aktivitas:
– Ziarah kubur ke makam keluarga atau leluhur.
– Membaca doa-doa, seperti Yasin, tahlil, dan doa arwah.
– Bersedekah atau memberikan makanan kepada fakir miskin atas nama arwah yang didoakan.
– Mengadakan kenduri atau selamatan di rumah, mengundang tetangga dan kerabat untuk berdoa bersama.
– Makna Simbolis:
– Sebagai bentuk penghormatan dan bakti kepada leluhur.
– Momentum untuk introspeksi diri dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan.
– Mempererat tali silaturahmi antar anggota keluarga dan masyarakat.
– Variasi: Tradisi Ruwahan dapat berbeda-beda di setiap daerah di Jawa, tergantung pada adat dan kebiasaan setempat.
Ruwahan pada malam itu di Kantor PT Bintang Vio Sari desa Sembung Harjo cukup lancar dan meriah. Acara di tutup pada pukul 20.30 Wib dengan bacaan Hamdalah.
Red
