
Viosarinews.com – (18/03/2020) – Wabah virus Corona (Covid 19) sudah mulai mengkhawatirkan khalayak
di Indonesia. Ketakutan akan eskalasi penyebaran wabah mengerikan
itu telah menyebabkan panic buying ketika pertama kali diungkap
adanya pasien positif Covid 19. Terjadi kehebohan luarbiasa menyikapi
penyakit yang belum ditemukan obatnya.
Pemerintah Indonesia, tentu saja segera bergerak cepat terutama oleh
Gubernur DKI Anies Baswedan. Pun kesigapan yang dilakukan oleh
pemerintah pusat yang langsung menunjuk delapan rumah sakit
rujukan bagi pasien positif Covid 19 di Jakarta. Beberapa Pemda lain
juga melakukan mitigasi cepat dalam mengantisipasi risiko
mewabahnya Covid 19.
Sayangnya, apa yang ditemukan oleh Nusa Rangkuti MBA, Chief
Operating Officer, Artificial Intelligence Field Management (AI-FM), dan
Executive Chairman World Halal Industry and Trade Alliance, Indonesia
masih menggunakan sistem informasi manual dalam pendataan dan
pengawasan ODP,PDP dan positif Covid 19. Hal tersebut amat
menggelisahkan Nusa Rangkuti, padahal seharusnya pemerintah sudah
menggunakan sistem AI-FM dengan teknologi digital mutakhir untuk
memudahkan pemantauan dan tindak lanjut yang harus dilakukan.
Redaksi berhasil mewawancarai sosok penting AI-FM Indonesia
tersebut, meski wawancara per telepon namun amat banyak informasi
yang dapat disimak.

Berikut di bawah ini rangkuman hasil
wawancaranya.
“Siapa saja bisa mendapatkan terinfeksi Corona tanpa menyadarinya.
Social distance adalah kuncinya. Sekarang adalah waktunya untuk
solidaritas, sekarang adalah waktunya untuk saling perduli. Ada begitu
banyak orang yang hidupnya telah terpengaruh, dari mereka yang telah
kehilangan orang yang mereka cintai, hingga orang-orang yang tidak
terinfeksi namun kehilangan mata pencaharian mereka.
Kita harus mendekati masalah ini dari sudut yang berbeda, secara unik
untuk situasi Indonesia. Sosial distance secara fisik (terutama orang tua
dan mereka yang merasa stamina rendah), ruralisasi-pertanian, dan
berupaya menjaga kota dan kegiatan ekonomi senormal mungkin, dan
gunakan teknologi pada kesempatan apapun. Indonesia tidak mampu
melakukan Bantuan Langsung Tunai atau subsidi kebutuhan pokok
untuk rumah tangga, seperti apa yang dilakukan di Amerika, Singapura,
bahkan Cina.
97 persen lapangan kerja disumbang oleh Usaha Kecil dan Menengah,
pertanian rakyat dan pekerja lepas. Semua ini menyumbang 60 persen
sektor swasta. Sangat penting untuk ini tidak terganggu.
Indonesia dikenal dan bangga akan moralitasnya, diuji berkali-kali
dalam berbagai krisis. Sudah ada kepanikan dalam berbelnja di kotakota yang terkena dampak, bahkan di negara seperti Singapura,
penjarahan dan bahkan peningkatan pembelian senjata di AS.
Di sinilah kita diuji pada tingkat tertinggi dalam empati, toleransi,
ketulusan, kepercayaan, kecerdasan, rasionalitas, kegigihan,
keberanian, kekuatan, iman, dan yang terutama, kemanusiaan, yang tak
dapat digantikan oleh mesin, kecerdasan buatan atau ciptaan apapun.
Kita mampu melewati ini bersama, bersatu, dan keluar dengan
kemenangan.
Artificial Intelligence-Field Managmenet (AI-FM) adalah sebuah sistem
yang mampu untuk mentracking objek dengan teknologi digital
mutakhir. Sebagai contoh yang paling mudah, apa yang dilakukan oleh
“Gojek” dengan menggunakan sistem aplikasi berbasis android yang
bisa melacak keberadaan para driver Gojek.
Penggunaan AI-FM dalam kasus Covid 19 akan dapat mengetahui
kemana saja pergerakan Orang Dalam Pengawasan (ODP), Pasien
Dalam Pengawasan (PDP) dan pasien positif Covid 19 yang memang
harus diisolasi rawat inap. Sang ODP dan PDP akan terlacak melalui
Sistem AI-FM kemana saja perginya, kapan waktunya, dan dia
berinteraksi dengan siapa saja. Semuanya akan termonitor.
Sayangnya yang kami lihat dalam penanganan kasus merebaknya covid
19 saat ini, pemerintah masih menggunakan sistem manual, hal mana
mereka yang merasakan merasakan gejala tertentu akan memeriksakan
diri ke klinik, lalu klinik memberikan laporan ke Pemerintah. Begitu
seterusnya. Namun semuanya masih menggunakan sistem komunikasi
dan pendataan manual seperti yang selama ini berlaku, dengan WA,
SMS dan lainnya.
Padahal, saat ini kita tengah menghadapi wabah Covid 19 yang tingkat
penularannya menyebabkan lonjakan jumlah penderita dan tingkat
kematian yang luar biasa. Tentunya, kondisi yang sangat darurat ini
memerlukan penanganan cepat oleh sebuah sistem terintegrasi dan
capable untuk memonitor perkembangan pasien ODP, PDP dan pasien
positif Covid 19.
Sistem AI-FM inilah yang saat ini dipergunakan oleh pemerintah China,
Italia, Korea Selatan dan beberapa negara lainnya dalam menangani
wabah Covid 19.
“AI-FM system” saat ini memang salah satu yang terbaik di Amerika
Serikat. “We don’t only give them (I) the AI-FM SYSTEM to use, but we
can (II) help set up the PROCESS to use the system, a complete turnkey
operation… Friction-less” (Jim Kafieh, 2020).
Gubernur DKI Anies Baswedan dalam wawancara media beberapa
waktu lalu mengeluhkan persoalan kecepatan update data lapangan
untuk kasus Covid 19. Jelasnya masih membutuhkan waktu lama untuk
menerima laporan-laporan. Dalam situasi kritis seperti sekarang hal itu
sebetulnya tidak terbayangkan.
Menangani sebuah wabah dari virus yang tingkat penyebarannya amat
eksponensial–yang tingkat kecepatan penularannya mirip MLM, satu
jadi dua, dua akan jadi empat–masih menggunakan sistem manual dan
karena ketiadaan sistem yang mendukung.
Oleh karena itu jika terlambat memitigasi kecepatan penyebaran
wabah ini, maka dikhawatirkan Indonesia akan mengalami nasib seperti
Italia dan Iran. Jika sudah seperti kedua negara tersebut, maka saat itu
tidak lagi dibutuhkan sebuah sistem, tetapi sibuk menyediakan rumah
sakit darurat dalam jumlah banyak untuk merawat para penderita
Covid 19.
Pada era teknologi digital saat ini tidak mungkin lagi kita mengerjakan
segala sesuatu dengan model manual. Amat memalukan jika kita
mengklaim memiliki Unicorn company dan memasuki era 4,0
sementara penganganan wabah mengerikan Covid 19 masih manual.
Sistem AI-FM selain akan mempermudah pemantauan pasien maupun
mereka yang ODP, PDP dan pasien positif. Basis datanya berdasarkan
KTP dan nomor telepon masing-masing untuk penduduk DKI misalnya.
Para tenaga medis akan menginput data dan memantau para ODP,PDP
dan Covid 19 positif. Sistem AI-FM akan menyediakan data amat rinci
dan update tentang hal itu semua.
Lebih jauh, dampak yang amat mengkhawatirkan jika masih saja
menggunakan sistem manual dalam menangani kegawatan Covid 19
bukan hanya dampak medis, tetapi juga dampak ekonomi. Hal itu
disebabkan masyarakat kita tidak punya cukup tabungan. Jadi akan
sangat menyulitkan dari sisi ketahanan ekonomi masyarakat. Pada
gilirannya, akan merambah pada masalah sosial dan politik. Maka
sebelum “api” nya membesar, harus cepat-cepat dipadamkan.
Ihwal investasi yang dibutuhkan dalam pengadaan sistem AI-FM
hendaknya tidak dipandang dari segi ekonomi semata, tapi bagaimana
menyelamatkan kehidupan dan kemanusiaan yang terancam oleh
bencana wabah mengerikan.
Hal itulah yang kami harapkan, agar penggunaan sistem yang jauh lebih
maju dalam menanggulangi wabah Covid 19 ini dapat segera
dipergunakan demi kebaikan bersama.
Kami akan sangat tenang jika ternyata pemerintah sudah menyiapkan
sistem yang sama canggihnya dengan AI-FM. Itu berarti sudah akan
menyelamatkan nyawa banyak warga negara kita. Tetapi hendaknya
jangan sampai tidak menyiapkan sistem apapun dan membiarkan hal ini
berlarut-larut.(Team Vio Sari S)
